Frequently Asked Question (FAQ) Grup Riset

FAQ hasil seminar tentang Grup Riset :

  1. Berdasarkan data kinerja FISIP ditunjukkan bahwa kinerja paling besar 6. Apakah data hasil penelitian terbatas terkait dengan pendanaan UNS. Misal dosen memiliki karya Bersama mahasiswa S2/S3 dapat dimasukkan kinerja pribadi dan riset grup? Jawab: Publikasi melekat pada pribadi masing-masing, maka bisa dikalim di IRIS dan otomatis dianggap sebagai kinerja. Apalagi jika menjadi pembimbing maka biasanya berhak menjadi corresponding author. Sehingga data tersebut bisa dihargai DIKTI sebagai kinerja untuk kenaikan pangkat.
  2. Mengapa luaran dituntut harus scopus? Apakah memungkinkan jika sinta 1 dan 2 juga diakui?
    Jawab: Harus scopus karena sudah aturan secara nasional. Jadi Kembali lagi misalkan kesulitan mencari topik untuk dijadikan sebagai publikasi scopus maka solusinya dapat menggandeng prodi dari fakultas lain. Selain itu, luaran dapat dimulai dari prosiding terlebih dahulu. Jika sinta 1 dan 2 lebih baik dapat ditranslate ke Bahasa inggris untuk bisa disubmit di scopus Q3/Q4. Setelah itu bisa dinaikkan di Q1/Q2 untuk mendapatkan pendanaan.
  3. Masalah pendanaan untuk dapat dibagi antara penelitian dan pengabdian dirasa kurang. Bagaimana solusinya? Bagaimana untuk dapat meningkatkan atmosfer penelitian di grup riset?
    Jawab: Solusinya disarankan joint International conference dengan fakultas lain. Karena pendanaan akan semakin banyak tahun depan.
  4. Jika tergabung dalam RG dan Pusdi/PUI, maka manakah yang diutamakan?
    Jawab: Karena pada tahun 2022 setiap dosen wajib masuk dan tergabung dalam satu RG maka lebih baik mengutamakan untuk mengembangkan RG yang dimiliki dengan membuat Roadmap yang jelas agar dapat dikolaborasikan dengan prodi di fakultas lain atau bahkan universitas lain.
  5. Bagaimana jika salah satu syarat ketua RG tidak terpenuhi?
    Jawab: Jika ada kasus seperti itu, maka dapat diajukan ke dekan. Jadi nanti dengan adanya kebijakan dekan maka dosen tersebut dapat diangkat sebagai ketua RG.
  6. Bagaimana jika anggota RG ada yang sedang studi. Apakah tetap dihitung kinerjanya?
    Jawab: Jika sedang studi maka anggota RG tersebut dianggap sedang melakukan ijin belajar dan tidak terlibat penelitian. Sehingga jika anggota berkurang banyak, maka bisa gabung antar RG. Akan tetapi jika ada dosen muda yang telah selesai melakukan study, maka dapat diajukan sebagai ketua RG jika memiliki publikasi yang bagus/tinggi. Sedangkan yang lain bisa mendukung dengan menambahkan data-data.
  7. Apakah anggota yang sedang melakukan study tersebut juga bisa menjadi pembagi?
    Jawab: Iya. Akan tetapi, umumnya anggota yang sedang study tersebut memiliki publikasi yang lebih banyak. Jadi itu lebih baik.
  8. Bagaimana jika ada beberapa anggota RG yang tidak memenuhi batas minimal dan tidak aktif. Kebijakan apa yang dapat diambil? Apakah bisa merger/mengambil anggota dari grup lain?
    Jawab: Sementara focus pada JUMLAH yaitu 5-10. Karena jika sudah focus pada jumlah maka dapat dibuat tata kinerja berupa roadmap yang jelas, memiliki pegangan seperti buku pedoman. Jadi untuk sementara harus focus pada 1 RG. Jika sudah tertata dan benar kinerjanya maka nanti akan dibebaskan Batasan jumlahnya.
  9. Bagaimana solusi jika peneliti tidak bisa memanage RG dengan baik?
    Jawab: Solusinya membuat Roadmap penelitian dengan baik, meliputi roadmap RG dan peneliti masing-masing agar bisa saling support data untuk bisa dipublikasikan di scopus/conference.
  10. Apakah first author bisa anggota dan tidak harus ketua?
    Jawab: Tidak ada aturan, yang penting ada nama ketua di publikasi (itu sudah dianggap luaran).
  11. Apakah dosen S2 masih bisa berpeluang sebagai ketua pengabdian?
    Jawab: Masih bisa untuk tahun ini.
  12. Bagaimana cara memisahkan karya ilmiah untuk RG dan Pusdi?
    Jawab: Jika RG hasilnya berupa publikasi, sedangkan Pusdi berupa karya ilmiah di luar publikasi. Untuk publikasi Pusdi dapat dilakukan double claim asalkan mencantumkan afiliasi departemen/fakultas dan pusdinya.

Materi seminar :

1. Kinerja P2M masih kurang.
2. IPR harus dikejar.
3. Publikasi berupa jurnal/prosiding scopus sebagai penulis pertama/corresponding author.
4. Rerata dana setiap riset group (RG) FISIP rendah. Jadi kalau bisa dapat menaikkan minat pendanaan penelitian agar publikasi semakin naik.
5. Selama 4 tahun terakhir jumlah publikasi per tahun naik 25 orang sehingga naiknya tidak signifikan.
6. Oleh karena itu, penataan grup riset perlu dilakukan.
– Pembatasan jumlah 5-10
– Menghitung kinerja untuk diperbaiki system
– Membuat roadmap yang jelas agar bisa menghasilkan sesuatu (seperti publikasi)
– Keanggotaan: Secara administrasi lebih baik 1 grup riset saja. Jika lebih bisa masuk grup lain di Pusdi/PUI. Tetapi tidak boleh rangkap jabatan sebagai ketua di kedua grup tersebut.
– Pemberian reward akan dilakukan melihat dari luaran scopus yang dihasilkan minimal 1 prosiding scopus. Reward yang diperoleh meliputi dana 25, 30, dan 50 juta.
– Jika kesulitan mencari topik untuk menghasilkan luaran publikasi scopus, maka bisa masuk ke RG fakultas lain.
7. Untuk administrasi:
– Link antar database (SIMPEG, SIAKAD, SISTER, dll), semua file dapat di download di IRIS, Form surat tugas diusahakan dapat diselesaikan sehari dan bisa dikirim via online.
– SPJ: Bantuan AR dan adanya asisten mahasiswa, serta perubahan mekanisme admin real time.

Leave a Comment